HAKEKAT KURIKULUM
Dalam memahami hakekat kurikulum antara satu orang dengan
orang lain atau satu pakar dengan pakar lain akan berbeda. Pada hakekatnya
kurikulum sama artinya dengan kurikulum . Secara garis besar pengertian hakekat
kurikulum dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1.
Pengertian kurikulum menurut pandangan tradisional
Menurut Oemar Hamalik kurikulum adalah sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Menurut S.
Nasution kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan
disekolah. Pengertian kurikulum yang dianggap tradsional ini masih banyak
dianut sampai sekarang juga termasuk Indonesia. Dari definisi kurikulum
secara tradisional Nampak jelas bahwa adanya kecenderungan penekanan pada
rencana pelajaran untuk menyampaikan mata pelajaran yang masih mengandung
kebudayaan nenek moyang. Kurikulum juga diartikan secara sempit hanya pada
penyampaian mata pelajaran kepada anak didik.
2.
Pengertian menurut pandangan modern
Pada saat ini kurikulum tidak hanya sebatas sebagai
segala hal yang berhubungan dengan pendidikan, tetapi sudah lebih luas lagi
yaitu sebagai ajang politik, dan sudah menjadi bekal para lulusan dalam
menjawab tuntutan masyarakat.
Menurut Hilda Taba dalam bukunya Curriculum Development,
menuliskan “ Curriculum is, after all, a way of preparing young people
to participate as productive members of our culture” kurikulum adalah cara
mempersiapkan manusia untuk berpartisipasi sebagai anggota yang produktif sari
satu budaya. J.
Galen Saylor,
dan William M. Alexander, “the curriculum is the sun totral of
school’s efforts to in fluence learning. Whether in the classroom, on the
playground, or out of school.” Jadi segala usaha sekolah untuk mempengeruhi
anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, dihalaman sekolah, atau diluar
sekolah termasuk kurikulum. B. Othenal Smith, W.O. Stanley, dan J.
Harlan Shores, “a sequence of potential experiences set up in the school for
the purpose of disciplining children and yout in group ways of thinking an
acting” kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensional dapat
diberikan kepada anak, yang diperlukan agar mereka dapat berfikir dan
berkelakuan sesuai dengan masyarakatnya.
Abd. Syukur Ibrahim Solchan Basenang Saliwangi, memandang
kurikulum sebagai suatu rencana atau bahan tertulis yang dapat dijadikan
pedoman bagi para pelaksana (guru) sekolah dan juga sebagai program pendidikan
serta dinyatakan dalam bentuk yang lebih umum sifatnya. Alie Miel mengatakan
bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan,
pengetahuan, kecakapan, dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni
sekolah, ialah si anak didi, masyarakat dan pendidik (termasuk tukang kebun,
juru tulis, juru rawat sekolah dan pegawai-pegawai sekolah yang lain yang ada
hubungannya dengan murid-murid). Donal F. Gay dalam Asnah Said
merumuskan kurikulum adalah:
1.
Kurukulum terdiri atas sejumlah bahan pelajaran yang secara logis.
2.
Kurukulum terdiri atas pengalaman belajar yang direncanakan untuk membawa
perubahan perilaku anak.
3.
Kurikulum merupakan disain kelompok social untuk menjadi pengalaman belajar
anak disekolah.
4.
kurikulum terdiriatas semua pengalaman anak yang mereka lakukan dan
rasakan di bawah bimbingan belajar.
David pratt, “curriculum, is organized set of formal
educational and or training intention”. Maksudnya kurikulum yaitu
seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat pelatihan. Kemudian
membuat implikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang dikemukakannya
tersebut menjadi enam hal, yaitu:
1.
Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya
berupa perencanaan (mental) saja, tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk
tulisan;
2.
Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan
kegiatan;
3.
Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus
dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan
dan perfalatan yang digunakan, kualitas guru yang dituntut, dan sebagainya;
4.
Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja
mempro-mosikan belajar dan menolak sifat rambang, tanpa rencana, atau kegiatan
tanpa belajar.
5.
sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai
komponen seperti tujuan, isi, system penilaian dalam satu kesatuan yang tak
terpisahkan atau dengan kata lain, kurikulum adalah suatu system;
6.
Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk untuk menghindari
kesalahpahaman yang terjadi jika suatu hal dilalaikan.
Menurut Winarto, sebagaimana dikutip oleh Burhan
Nurgiantoro, mendefinisikan kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang
direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan
tertentu (Burhan, tt. : 6). Abdul Qadir Yusuf dalam kitabnya at-Tarbiyah wal
Mujtami’ mendefinisikan kurikulum yang artinya sebagai berikut:
“kurikulum
adalah sejumlah pengalaman dan uji coba dalam proses belajar mengajar siswa di
bawah bimbingan lembaga (sekolah)”
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun
1989 Bab I pasal I disebutkan bahwa: “kurikulum adalah seperangkat rencana dan
peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar”. Mengandung unsur-unsur:
1.
Seperangkat Rencana
Seperangkat rencana, artinya bahwa di dalamnya berisikan
berbagai rencana yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Namanya saja
rencana bukan ketetapan, ini berarti bahwa segala sesuatu yang direncanakan
dapat berubah sesuai dengan situasi dan kindisi (fleksibel).
2.
Pengaturqan Mengenai Isi dan Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran ada yang diatur oleh pusat (kurnas) dan oleh
daerah setempat (kurmulok)
3.
Pengaturan cara yang digunakan
Cara mengajar yang dipergunakan ada berbagai system,
misalnya; ceramah, diskusi, demonstrasi, inquiri, membuat laopran
portofolio dan sebagainya.
Dari berbagai pendapat dan definisi hakekat kurikulum,
menurut S. Nasution dapat diperoleh penggolongan sebagai berikut:
a.
Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para
pengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangakan dalam
bentuk buku atau pedoman kurikulum, misalnya berisi sejumlah mata pelajaran
yang harus diajarkan.
b. Kurikulum dapat pula dipandang
sebagai program, yakni alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai
tujuannya. Ini dapat berupa mengajarkan berbagai pelajaran tetapi dapat juga
meliputi segala kegiatan yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, misalnya
perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah dan lain-lain.
c. Kurikulum dapat pula dipandang
sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan,
sikap, dan ketrampilan tertentu. Apa yang diharapkan akan dipelajari tidak
selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.
d. Kurikulum sebagai pengalaman
siswa.
Dari berbagai definisi dan pandangan para tokoh mengenai
hakekat kurikulum, pemakalah dapat menyampaikan bahwa hakekat kurikulum
merupakan pengalaman peserta didik baik disekolah maupun diluar sekolah di
bawah bimbingan sekolah. Kurikulum tidak hanya terbatas pada mata
pelajaran, tetapi meliputi segala sesuatu yang mempengaruhi peserta didik, dan
bias menentukan arah atau mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi.
DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:
Posting Komentar